persian cat

Meong Bermutu dari Pojok Kota Surabaya

Viviana salah satu persia pesanan hobiis di Jakarta itu. Masih ada 9 ekor lain diimpor pemilik PT Sumber Alam Candra. Persia berumur 4—6 bulan itu dibawa ke Candra Cattery (CC) miliknya di Desa Ciketing Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 15 km atau ditempuh kendaraan sekitar 20 menit dari pusat kota bersemboyan patriot itu. Meski jauh, hobiis rela datang ke sana untuk membeli kucing bermutu.

Warga di sana jarang yang mengetahui rumah itu. Cattery yang dibangun setahun silam itu memang tersembunyi di balik dinding tembok setinggi 4 m. Di dalamnya ada sebuah gudang seluas 200 m2. Tempat pemeliharaan kucing, 2 kamar di gudang bagian depan. Ruangan 7 m x 5 m dan berdinding kaca itu dilengkapi 2 mesin pendingin berkekuatan 1 PK. Pantas, bila bulu anggota famili Felidae itu panjang dan lebat.

Kualitas terjamin

Ketertarikan Cacang mengimpor persia karena permintaan pembiak. Ia paham seluk-beluk mengimpor barang, termasuk kucing. Beberapa pembiak kenalan di luar negeri cukup dikontak melalui e-mail.

Persia pertama kali yang ia datangkan dari Rusia. Negara itu terkenal sebagai penghasil kucing bermutu. Beberapa negara lain, seperti Jerman, Denmark, Hongaria, dan Ukraina menjadi tujuan pencarian kucing berkualitas.

Menurut Cacang kualitas kucing asal Amerika Serikat bagus, tapi harus special order karena harga mahal. Makanya, ia hanya melayani bila ada pesanan. Di sana seekor kucing juara berharga US$2.000— US$2.500 atau Rp25-juta—Rp30-juta. Ada juga yang mencapai Rp50-juta. Kucing dari Australia harganya lebih murah, sekitar Rpl2-juta, tapi kualitas masih kalah bagus.

Tak hanya jago mengimpor, CC juga dikenal sebagai penghasil anakan persia bermutu. Anak-anak kucing itu diperoleh dari induk-induk berkualitas yang memang sengaja ditangkarkan. “Sebelumnya saya tidak berniat menjual, tapi pembeli memaksanya” ucap Cacang. Makanya, agar tidak dilirik pembeli, ia selalu menaikkan harga. Namun, bagi yang kesengsem harga tinggi bukan halangan. Contohnya, anakan Lady Bos dan Eldorado yang terjual Rpl0-juta.

persian

Cari nama

Dikenalnya CC di kalangan mania kucing tak hanya karena acapkali mengimpor. CC juga aktif mengikuti kontes. Persia-persia terbaiknya menorehkan berbagai gelar juara. Sebut saja, Elitalili dan Haldad yang juara di Bandung dan Jakarta. Prestasi terakhir dari Chandraline yang menyabet runner up persian kitten 3—6 pada lea Garfield Cat Festival di Mai Ciputra, Jakarta Barat, pada Desember 2004.

Menurut Cacang kontes sebagai barometer untuk mengukur kualitas kucing sekaligus mencari nama. Dengan menang di kontes, harga kucing pun terdongkrak naik. Di kontes itu, ia juga mengetahui selera konsumen. “Hobiis di Indonesia menyenangi kucing bersosok besar. Kalau bisa umur 6 bulan sudah bongsor,” katanya.

Oleh karena itu ia rajin mendatangkan indukan berkualitas dari mancanegara. Masuknya induk baru diharapkan memperbaiki kualitas kucing. Maklum, kebanyakan induk yang ada didatangkan pada 1997. Itu jelas berbeda dengan tren yang berkembang saat ini. Sekarang hobiis mencari kucing bertubuh coby— mungil, kepala besar, dan proporsional. “Mata pun harus bulat, hidung superpesek, dan bulu lebat,” katanya.
Untung lumayan

Cacang memang lihai melihat pasar. Hobinya terus dikembangkan begitu bisnis ikan terpuruk. Ia mencoba peruntungan dengan mengimpor kucing pada awal 2004. “Modal tidak besar, tapi untung lumayan. Pemainnya pun belum banyak. Apalagi, kucing bisa diterima semua orang,” katanya.

Setidaknya setiap bulan CC menjual 10 kucing ke hobiis dari Jakarta, Surabaya, Semarang, Malang, dan Bandung. Menurut ayah 2 anak itu jika dijual ke pembiak hanya untung dari biaya pengiriman. Musababnya, “Biaya mendatangkan seekor sama dengan 10 ekor,” katanya.

Keuntungan meningkat bila yang pembeli adalah penggemar kucing. Mereka biasanya tanpa tawar-menawar, langsung membayar. Namun, jumlah pembeli seperti itu hanya hitungan jari.

Kelihatannya bisnis kucing begitu menggiurkan. Padahal, Cacang pernah kejeblos Rp30-juta ketika membeli kucing dari salah satu pembiak di Amerika Serikat. “Kucing yang diorder tak kunjung dikirim,” keluhnya. Meski begitu ia tak jera, tetap rajin membuka web site di komputer setiap sore dan mengordernya jika ada yang bagus. Harapannya dengan mendapat kucing berkualitas atau jenis baru, ia bisa mematok harga tinggi ke pelanggan.