Dendrobium_capra

Veteran Tergila-gila Anggrek

Dendrobium capra itulah induk yang ditangkarkan Mushadi. Anggota keluarga Orchidaceae itu memang kerap dipakai lantaran secara morfologi berbatang pendek. Sifat anggrek spesies itu diharapkan terwaris pada semua silangannya. Sayangnya, hingga kini sedikit sekali yang menangkarkan Dendrobium capra.

Bagi Mushadi, kebetulan anggrek spesies itu jenis pertama yang diperbanyak. Semua itu bermula dari tawaran anggrek tidak muncul mendadak. Menjelang pensiun ia dihadapkan pada 2 pilihan yang dianggap cukup menarik. Beternak ikan atau menjadi pekebun anggrek. “Setelah dihitung di atas kertas per m2 sepertinya ikan untungnya gede,” ujarnya. Diskus pun diternak lantaran saat itu trennya merangkak.

Meski demikian belum genap setahun, usaha itu mundur teratur. “Istri ngga tahan kalau setiap hari membantu menyipon,” paparnya tertawa. Dengan berat hati seluruh ikan bertubuh cakram itu diberikan pada koleganya. Setelah benar-benar pensiun pada 1993,

kesibukan pemburu anggrek di Yogyakarta 4 tahun silam yang memboyongnya dari hutan di sekitar Wonosari. “Mereka datang menawarkan 10 tanaman. Karena memang mulai langka, saya beli,” ujar Mushadi. Anggrek itu kemudian dibesarkan lalu Ai-selfing sampai mendapat buah matang. Biji-biji dari buah lalu ditebar dalam media dan hingga kini jumlahnya mencapai ratusan botol. Jerih payahnya itu menuai hasil setelah sabar menunggu 2,5 tahun.

Kisah sukses Mushadi tak hanya Dendrobium capra. Dendrobium kratingdaeng malah berhasil di kulturjaringankan. Jenis hibrida asal Thailand yang berbunga kompak dan berukuran besar itu sukses dikloning setelah gagal pada 3 jenis dendrobium lain. “Sebuah intitusi di Yogyakarta yang sama-sama mengembangkan hingga kini belum berhasil,” ujarnya. Kini dendrobium itu menginjak tahap kalus. Beberapa pekan ke depan siap untuk dipindahkan ke dalam botolan untuk kemudian dijual.

Koleksi kelahiran Blora 66 tahun silam itu cukup banyak. Di nurseri di Kadipaten, Yogyakarta, sekitar 50 jenis induk dendrobium dan phalaenopsis mengisi lahan seluas 1.000 m2. Sebagian anggrek-anggrek itu seperti black spider dan lasianthera sudah diperbanyak di laboratorium seluas 24 m2. Di kediamannya di Cipinang Jaya II, Jakarta Timur, tampak pula beberapa anggrek spesies seperti Coelogynepandurata, si hitam asal Kalimantan dan anggrek rumput asal Tebingtinggi.

Pemilihan jenis anggrek

“Saya banyak di belakang layar, mirip godfather,” kata Mushadi tentang peran di nurserinya kini. Nurseri yang diberi nama putra kesayangan Aryo yang didapat setelah usia pernikahannya menginjak tahun ke-12 itu, pada saat-saat tertentu saja dikunjungi. Terutama ketika membawa calon-calon induk baru. Sisanya lebih banyak dipantau melalui telepon.

Pilihan mantan kepala Pusat Kesehatan ABRI—kini TNI—pada anggrek tidak muncul mendadak. Menjelang pensiun ia dihadapkan pada 2 pilihan yang dianggap cukup menarik. Beternak ikan atau menjadi pekebun anggrek. “Setelah dihitung di atas kertas per m2 sepertinya ikan untungnya gede,” ujarnya. Diskus pun diternak lantaran saat itu trennya merangkak.

Meski demikian belum genap setahun, usaha itu mundur teratur. “Istri ngga tahan kalau setiap hari membantu menyipon,” paparnya tertawa. Dengan berat hati seluruh ikan bertubuh cakram itu diberikan pada koleganya. Setelah benar-benar pensiun pada 1993, kesibukan mantan dokter Batalyon I Pomad Para di Tanahabang, Jakarta, itu berpindah mengurusi kebun seluas 15 ha. Kebun ia beli saat giat menekuni hobi berburu babi hutan pada 1973.

Kebun di Desa Pasirangin, Cariu, Bogor, itu sejak 10 tahun lalu ditanami 700 durian hepe. Pilihan pada varietas lokal itu lebih karena rasa nasionalisme yang membuncah. “Jenis itu merupakan salah satu yang bagus untuk dikembangkan,” ujarnya. Sayang tanaman berumur 8 tahun hanya puluhan saja yang berbuah.

Toh, di sela-sela aktivitas sebagai direktur PT Trikarsa Sekar Sejahtera, penyedia perlengkapan mesin dan elektronik untuk perusahaan-perusahaan besar, ia menyempatkan diri mengunjungi pameran anggrek di Jakarta. Tak dinyana pilihan pada anggrek ketika pensiun merasuk kembali. Namun, kali ini ditekuni serius. Suami Nurwahyu itu berselancar ria di internet membuka situs-situs khusus anggrek. Dari sanalah ia pelan-pelan belajar secara otodidak.

Salah satu selling dendrobim milik Mushadi
Salah satu selling dendrobim milik Mushadi

Rp100-juta

Bagi Mushadi, anggrek telah menjelma menjadi gairah baru. Tak tanggung-tanggung, kakek 1 cucu itu mengimpor 400 klon dendrobium dari University of Hawaii pada 2000. Sayang dari 400 klon yang menyedot dana hingga Rp8-juta untuk ongkos mendatangkan saja, hanya 50 tanaman bertahan hidup. Sisanya bertekuk lutut pada serangan kumbang gajah Orchidophilus aterrimus. Sisa anggrek itu kemudian dibawa ke Yogyakarta.

Untuk memperdalam ilmu anggrek, Mushadi pun tak segan mengunjungi pekebun-pekebun senior seperti Yos Sutiyoso dan Budi Rustanto. Dari Yos misalnya, ia memperoleh cara pemupukan memakai EC. Sedangkan Budi menyumbangkan ilmu kultur jaringan. Untuk memperluas wawasan, buku mancanegara dibeli. Salah satu buku favorit Plant Propagation by Tissue Culture karya EF George yang dibeli seharga Rp4,5 juta. Bahkan karya Yosef Erditi, pakar anggrek, yang sulit ditemui bisa diperoleh setelah kolektor dari Australia melepasnya.

Meski sudah berguru, kegagalan tetap menerpa. Sebelum membangun ruang pembesaran kompot seluas 400 m2, hampir 95% hasil tebar biji selalu mati.Itu berlangsung hingga setahun lamanya. Kondisi berbalik setelah rumah kompot jadi pada akhir 2002, 95% hasil tebar biji hidup. “Total biaya sarana dan prasarana, termasuk induk, menghabiskan Rp 1 OO-juta,” paparnya

Penyediaan tanaman induk selama ini ditangani sendiri. Indukan anggrek itu dibeli dari pekebun dan saat pameran. Mushadi termasuk royal. Tak sulit merogoh kantong untuk anggrek mahal

hingga seringkah menuai protes dari sang anak. “Ini mahal, Pak! Kok dibeli,” ujar Mushadi meniru ucapan Aryo Rahmandipto. Paling-paling alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada 1966 itu memberi komentar pendek, “Ssst…kita lihat nanti,” ujarnya.

Namun, Mushadi pun pernah kecele. Sesaat setelah membeli Dendrobium johnsoneae, anggrek itu langsung mati. Ternyata, tanaman itu tumbuh di ketinggian 900 m dpi, padahal Yogyakarta hanya 395 m dpi.

Penyilangan

Latar belakang sebagai dokter ikut memberi sumbangsih tidak sedikit. Untuk mencegah kontaminasi pada media tanam ia memakai antibiotik Plant Pressure Mixture (PPM) buatan Vitotec asal Amerika Serikat. Harganya US$1 per tetes. Dengan antibiotik kontaminasi media dapat ditekan. “Seorang pekebun di Cipanas, tertarik ikut memakainya,” katanya.

Penyilangan kini menjadi fokus utama Mushadi selain memperdalam kultur jaringan. Beberapa silangan yang berhasil antara lain Dendrobium lineale blue X H1449 dan Dendrobium discolor X H1449. “Fokus utama pada dendrobium dan phalaenopsis karena mereka cocok di iklim tropis yang low land seperti Yogyakarta,” ucapnya.

Setiap pagi bila tidak berkunjung ke nurseri, Mushadi tetap rajin merawat semua koleksi yang di rumah di Jakarta. Maklum, pilihan berkebun anggrek itu sudah mengikat sanubarinya. “Anggrek selalu’indah untuk dinikmati,” ujarnya tersenyum. (Dian Adijaya S/Peliput: Syah Angkasa)