koleksi kaktus

Separuh Kaktus Hias Dunia Dikoleksinya

Bagi para hobiis, kaktus bak model abadi. Tak pernah usang, selalu aktual, dan digemari dari masa ke masa. Berbekal kecintaannya itulah, Pami Hernadi mengembangkan kaktus sejak 1975. Meski sempat mengalami naik-turun, bisnis kaktus pun kini dikembangkan besar-besaran. Jumlah kaktus dan sukulennya saat ini mencapai 150.000 tanaman siap jual.

Suasana Desa Langensari di utara Bandung, siang itu begitu cerah. Udara sejuk yang menjadi ciri khas Lembang demikian terasa. Jauh sebelum kawasan wisata Maribaya tampak sebuah jalan kecil menuju kampung Sukamulya. Deretan rumah penduduk memadati kampung kecil itu. Beberapa rumah di antaranya dihiasi hamparan kaktus.

Tak susah menemukan alamat Venita Nursery. “Oh, kebun Pak Pami masuk gang kecil, engga jauh dari jalan masuk,” sahut seorang penduduk. Meski sempat terlewat, tampak gang kecil yang dimaksud. Dari luar tak terlihat tanda-tanda kebun kaktus. Hanya sebuah kaktus yang lumayan besar tersembul dari balik pintu gerbang.

Di dalamnya tampak hamparan luas kebun kaktus memenuhi pemandangan. Benar-benar seperti di “lautan” kaktus. Ke mana mata diarahkan yang tersaji lagi-lagi bentuk unik tanaman , gurun itu. Sebuah greenhouse berukuran besar—sekitar 1.000 m2—berdiri megah di tengah kebun. Di kiri dan kananny a’ sosok besar kaktus aneka jenis tertata rapi dan artistik.

Sebuah taman kecil di depan greenhouse dipenuhi kaktus dan beragam sukulen. Dengan memainkan bentuk dan kontur tanaman tercipta pemandangan nan indah. Kehadiran bebatuan di sela-sela tanaman makin memperkuat kesan gurun.

Koleksi Aneka jenis Kaktus

Memasuki greenhouse berkonstruksi besi dan beratap plastik UV itu, AraKPT teringat hypermarket di Jakarta. Hampir sebagian besar jenis kaktus dan sukulen ada di sana. “Koleksi di sini sekitar 1.500 jenis,” ujar Pami. Dari jenis yang umum, seperti kaktus tempel—gymnocalycium— segala rupa agave, mammillaria, haworthia, echevaria, aloe, sampai yang langka seperti ariocarpus, obregonia, uebelmania, dan astrophytum super kabuto bisa dijumpai.

Semua tanaman ditata rapi di atas rak semen yang beijajar teratur. Kaktus dari jenis yang sama dikumpulkan dalam satu rak. Pekerjaan memilih jadi mudah. Dari satu genus, ragam spesies kaktus yang dimiliki cukup banyak. Contohnya mammilaria sebanyak 100 spesies. Juga kaktus lain seperti opuntia 20 spesies, echinocactus (5), echinocereus (13), ferocactus (15).

Selain itu, tak kalah beragamnya koleksi sukulen. Misalnya, echevaria sekitar 65 spesies. Dari yang berbentuk seperti kubis-kubisan, sampai yang mirip tanaman sakit karena memiliki benjolan kecil. Di samping itu, ada haworthia 100 spesies, agave 150 spesies. “Yang paling lengkap koleksi aloe,” tutur Ayah 4 putra itu. Separuh lebih dari total aloe yang ada di dunia, dikoleksinya. Jumlahnya mencapai 100 spesies dari 170 spesies yang ada.

Kaktus langka

Di bagian depan greenhouse tampak rak kayu bertingkat berwarna merah. Deretan memanjang pot oranye yang juga berisi kaktus dan sukulen tampak eksklusif. “Kalau yang ini kaktus koleksi,” ungkap Temmy, putra sulung Pami yang bakal menjadi generasi penerus. Karena koleksi, maka yang hadir kaktus-kaktus spesial dengan sifat unik. Misalnya, golden barrel “monstrose minor”. Berbeda dengan jenis biasa, ia tumbuh memanjang dan tanpa duri.

Ada pula echevaria super mini berdiameter 4—5 cm. Juga beragam kaktus langka lain, seperti varian-varian astrophytum supercabuto. Jika umumnya Astrophytum asterias itu bersosok plontos, jenis supercabuto penuh bintik-bintik berbulu. Kaktus-kaktus langka itu diperoleh Pami dari kolektor dan nurseri di mancanegara. Sebagian made in Venita sendiri. Itu semua buah ketekunan Pami menggeluti kaktus selama puluhan tahun.

Dengan jam terbang yang tinggi ia bisa mengetahui dan memperoleh kaktus-kaktus mutasi. Lewat biji impor
yang disebar, dijumpai banyak kaktus abnormal. “Dari menebar biji 1.000, yang jadi paling hanya 50%. Nah, 1— 5% nya pasti kelainan,” kata Rini Widjayanti, istri Pami sekaligus penanggung jawab pembibitan. Untuk mengetahuinya dibutuhkan kejelian karena semaian kaktus berukuran mungil, sekitar 0,5 cm yang jumlahnya puluhan hingga ratusan.

Kaktus itu lalu diseleksi dan dikelompokkan sebagai tanaman koleksi. Kelak 3—5 tahun lagi bakal diketahui potensi yang dimilikinya. Jenis kaktus koleksi seperti itu banyak dikejar para kolektor dunia. “Saya yakin kita tidak kalah dengan Jepang 5—6 tahun lagi,” tutur lulusan magister Teknik dan Manajemen Industri ITB itu. Melihat prospek cerah itu, Pami berkonsentrasi menghasilkan kaktus serupa, selain jenis-jenip silangan baru. Obsesinya, Venita Nursery bisa dikenal dunia.

Tips Memacu Pertumbuhan kaktus Hias

Wajar kalau kaktus disebut sebagai supei AL/tumbuh. Bayangkan saja, untuk mencapai ukuran 5 cm, beberapa astrophytum butuh waktu 4—5 tahun. Kaktus saguaro perlu waktu 10 tahun hanya untuk mencapai ukuran 12 cm.

Di alam bebas, cephalocereus tertentu memerlukan 200 tahun untuk mencapai ukuran 13 m. Di samping alasan genetik, iklim yang berbeda dengan habitat juga bisa menghambat laju pertumbuhan.

Misalnya dibutuhkan lingkungan dengan iklim ekstrim, seperti layaknya di gurun pasir. Dengan kondisi di luar itu, tentu saja pertumbuhan pun cenderung mandek atau melambat.

Untuk mengatasinya, Pami Hernadi, pekebun kaktus di Lembang punya resep khusus. Diinspirasi oleh pekebun di Jepang, ia membangun beberapa rumah tanam dengan konstruksi berbeda. Di negeri Sakura, tempat memelihara kaktus rata-rata pendek dan tertutup 100%.

Bentuknya sangat sederhana. Hanya konstruksi kayu berbentuk segitiga memanjang. Seluruh permukaan luar dilapisi plastik UV dari atas hingga bawah. Sebagai jalan masuk, dibuat pintu di salah satu sisi. Tinggi rumah sekitar 2 m, dan lebar terluar 2 m. Di bagian dalam tampak deretan kaktus yang ditanam langsung di tanah.

Di siang hari, suhu di dalam bisa mencapai 55°—60°C. Tingginya suhu lantaran tak ada ventilasi dan sirkulasi udara. “Mirip habitat aslinya di padang sabana, sangat panas,” ujar Pami. Ketika malam hari suhu turun drastis sampai 20°C. Perbedaan rata-rata suhu siang dan malam sekitar 30°C.
Prinsipnya, dengan perbedaan suhu itu pertumbuhan kaktus terangsang. Apalagi penyiraman makin jarang dilakukan. Bisa 1—2 minggu sekali, tergantung kondisi. “Kalau benar-benar kering baru disiram, “ tambah Pami. Alhasil, yang susah berbunga pun jadi dipacu. Oleh karena itu, di kebun yang terletak di Lembang, Astrophytum sp bisa berbunga cepat. Padahal, ukurannya baru 1/3 dari ukuran dewasa yang siap berbunga.

Selain itu, ada kaktus yang mengalami pertambahan diameter batang 100% hanya dalam jangka kurang dari 1 tahun. Sebelumnya, Pami harus rela menunggu sampai 9 tahun untuk mencapai ukuran separuhnya. Namun tak semua jenis bisa dimasukkan dalam ruang “oven” itu. Di antaranya macrophora, ferrocactus, echinocactus, noctocactus, dan astrophytum. (Utami Kartika Putri)