Satu Keluarga Beragam Manfaat

Pandanus Sp: Satu Keluarga Beragam Manfaat

Buah cangkuwang, si penyelamat, berbentuk gilig seperti torpedo sepanjang lengan tangan. Sekujur tubuh buah dipenuhi biji yang dibungkus kulit berwarna hijau. Biji berselimut daging berwarna putih saat muda dan kuning bila matang. Itulah yang dimanfaatkan Toto sebagai obat. Ia meramunya bersama akar alang-alang, akar pinang, dan kulit kayu lame. Direbus dari 3 gelas menjadi 1 gelas, ramuan itu diminum rutin 3 gelas sehari.

“Agak pahit tapi hangat dan enak di badan,” kata kelahiran Kampung Pulo, Desa Cangkuwang, Kabupaten Garut, 41 tahun silam itu. Penduduk sekitar menjadikan ramuan buah cangkuwang itu sebagai obat sesak napas, penghangat tubuh, bahkan penyakit TBC. Itu mengingatkan pada buah merah, Pandanus conoideus. Buah cangkuwang, Pandanus furcatus memang kerabat dekat tanaman endemik Papua itu. Disebut cangkuwang karena berasal dari Desa Cangkuwang, Kabupaten Garut.

Pandanus furcatus

Menurut Umar, penduduk asli Desa Cangkuwang, buah P. furcatus mengeluarkan aroma menyengat saat dibelah. Sosok buah mirip dengan buah merah. Bentuk memanjang tapi ujung buah agak membulat tidak seperti buah merah yang meruncing. Saat masih muda, kulit berwarna hijau gelap dan berubah menjadi kuning seperti pisang setelah matang. Daging buah manis tapi agak gatal di tenggorokan.

Anggota famili Pandanaceae itu endemik di Kampung Pulo, Desa Cangkuwang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Lokasinya berdekatan dengan kawasan wisata Candi Cangkuwang peninggalan Kerajaan Mataram abad VIII. Kawasan pariwisata seluas 25,5 ha itu awalnya ditumbuhi ribuan tanaman cangkuwang. Lantaran menyebabkan gatal bila terkena daunnya, maka banyak pohon yang ditebang,” kata Umar yang juga pengurus lokasi rekreasi itu.

Daun cangkuwang tersusun spiral, memanjang hingga 4—5 m. Oleh penduduk sekitar, daun berduri itu dianyam menjadi topi dan tikar. Daun, tunas, dan buah diracik sebagai obat. Tunas-tunas muda yang dibakar bermanfaat sebagai obat batuk. Sedangkan sari daun berkhasiat mengobati disentri dan diare. Meski dipercaya berkhasiat sebagai obat, tapi, “Belum ada penelitian tentang kandungannya,” kata suami Sri Hartati itu.

Pandanus tectorius

Kerabat buah merah juga AraKPT temukan di Kebun Raya Bogor. “Di Kebun Raya Bogor saja terdapat 19 jenis,” kata Toto Djuanda Said, Kepala Bagian Registrasi Kebun Raya Bogor. Salah satunya, P. tectorius yang tingginya mencapai 7—40 m dengan banyak percabangan. Batang kokoh disokong oleh puluhan akar tunjang yang mengelilingi batang. Di habitat aslinya ia banyak ditemukan di daerah pantai berpasir atau berkarang. Meski begitu ia tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpi dengan kebutuhan curah hujan tinggi.

Sosok buah mirip stroberi. Buah majemuk berwarna merah itu umumnya tumbuh di pucuk batang tepat di bawah daun. Buah tunggal berisi serabut halus dan lembut. Bunga dan buah yang muncul sepanjang tahun, “Banyak digunakan sebagai kuas,” kata Yayat Hidayat, staf Kebun Raya Bogor.

Daun pandan pudak—nama lainnya— berbentuk pita dengan duri kecil di sepanjang tepi daun. Panjang daun mencapai 1—1,5 m. Seludang bunga jantan mengandung minyak asiri yang bermanfaat untuk kosmetika, minyak rambut, sabun, bahkan pengharum makanan dan minuman.

Pandanus amaryllifolius

Inilah anggota keluarga Pandanaceae yang paling populer. Tak seperti buah merah, P amaryllifolius berbentuk perdu dengan sosok kecil. Dengan tinggi 1,75—2 m, batang menjalar ke mana-mana. Itu lantaran pada pangkal batang keluar akar yang menyebar di atas permukaan tanah.

Daun berwarna hijau kekuningan, tipis dengan lebar 5 cm. Panjang daun 0,8 m— 1 m dipenuhi duri halus di tepinya. Lantaran mengeluarkan aroma wangi saat daun diiris, pandan wangi nama lainnya banyak ditanam di halaman rumah. Ia dimanfaatkan sebagai pemberi aroma kue atau nasi.

“Setiap tunas yang tumbuh di batang potensial menghasilkan buah,” tutur Yayat. Sayang, potensi itu belum dimanfaatkan lantaran khasiat buah belum diketahui.

Pandanus amaryllilolius, buah tumbuh di sela daun
Pandanus amaryllilolius, buah tumbuh di sela daun

Pandanus livingstonianus

Di antara belasan koleksi Pandanus sp. di Kebun Raya Bogor, P. livingstonianus bertubuh paling kecil. Walaupun telah hidup puluhan tahun, ia tetap pendek, 1— 1,5 m. Daun berwarna hijau dengan susunan melingkar sangat anggun. Daun berduri itu memiliki lebar hingga 2 cm dan panjang 80—90 cm.

Bakal buah kuning kehijauan itu dibungkus 3—4 helai seludang berwarna kuning keemasan. Saat buah membesar, berdiameter 10—15 cm, seludang mengelupas secara alami. Warna hijau gelap berubah menjadi merah jingga saat matang.

Pandanus livingstonianus
Pandanus livingstonianus

Pandanus papuana

Berasal dari Halmahera, Maluku, P papuana terbilang unik. Bila kerabat lain memiliki batang berwarna krem, ia berbatang hijau mengkilap dengan pola mirip loreng harimau. Batang besar dengan diameter 20—30 cm, sangat halus dan licin.

Akar tunjang memiliki pola garis lurus sejajar dengan akar tunjang. Dengan diameter 10—15 cm, akar berduri tumpul itu memiliki tudung akar yang berfungsi sebagai penjaga kelembapan agar dapat tumbuh hingga menjangkau tanah. Sayang, potensi kerabat buah merah ini belum tergarap. (Rahmansyah Dermawan)