Nikmati Kenyamanan di Rumah Walet

Semilir angin siang itu menyejukkan perempuan setengah baya yang tengah duduk di gazebo taman. Matanya terus memperhatikan burung-burung yang tengah melayang mengitari bangunan putih. Sesekali ia melihat ke arah guludan yang ditumbuhi beragam sayuran. Suasana yang mirip tempat peristirahan itu diciptakannya untuk menghilangkan kejenuhan saat menanti kedatangan masa panen sarang walet.

Di sana, perempuan pensiunan pegawai negeri sipil itu menginvestasikan sekitar Rp 1,3—miliar. Meskipun usaha di walet bukan satu-satunya sumber pemasukan. Ia berharap usaha walet mengisi pundi-pundi. “Ini juga untuk anak dan cucu,” ungkap ibu yang menolak disebut namanya. Namun, ia tidak ingin selama masa penantian dilalui dengan penuh ketegangan alias stres.

Sebab, investasi walet butuh waktu lama untuk kembali meraih hasil. Setidaknya 5 tahun diperkirakan baru ada pemasukan. Itu pun kalau berhasil, karena memancing walet susah. Jika tidak, belasan tahun modal akan tertanam sia-sia. Oleh karena itu ia membuat rumah walet senyaman mungkin sekaligus dijadikan tempat beristirahat.

Sepertiga bagian

Di lahan 2.000 m2 di Tangerang itu selain berdiri bangunan rumah walet juga dibuat taman. Rumah walet 3,5 lantai itu hanya menghabiskan 480 m2, selebihnya taman kebun. Beragam sayuran ia pilih untuk menunjang ketersediaan pakan walet. Serangga-serangga sebagai pakan walet banyak bermunculan di antara bunga, daun, dan rumpun sayuran, ucapnya. Di kanan-kiri memang masih ada tanaman-tanaman hias yang dipotkan.

Korelasi adanya taman dengan peningkatan produksi sarang belum dirasakan. Maklum, rumah walet yang selesai dibangun setahun itu baru berisi belasan sarang. Sarang tidak dipanen agar perkembangan populasi burung meningkat pesat. Yang jelas kehadiran taman memberikan nuansa indah dan segar. Kesan kumuh di lokasi rumah walet sama sekali tidak tampak. “Jika semua rumah walet seperti ini, mungkin tidak akan ada protes dari warga maupun pemerintahan setempat,” tuturnya.

Bersebelahan dengan rumah walet miliknya, berdiri rumah walet lain. Di sini bukan hanya halaman menghijau dan bertebaran pot bunga, tapi juga ada bangunan rumah mungil. Tidak terlalu besar, hanya berukuran 6 m x 10 m, tapi tampak asri. Sayang, saat AraKPT berkunjung ke sana pemilik tidak di tempat. Namun, salah seorang pekerja yang tengah merawat tanaman menuturkan, “Bapak sering bermalam di sini setelah getol memperhatikan walet keluar-masuk gedung,” paparnya.

Meski halaman di rumah walet kedua ini hanya 1/3 dari luas total, “Sudah cukup untuk rooving area. Apalagi rumah peristirahatan tidak tinggi, sehingga tidak mengganggu lalu lintas walet,” kata Mulyadi, praktisi walet di Serpong. Ia mencontohkan rumah-rumah walet di perkotaan banyak yang tidak mempunyai halaman.

Real estate

Suasana nyaman, semarak, dan sehat di rumah walet hanya terwujud jika berada di lingkungan yang terkelola. Sentra-sentra walet yang ada kurang menunjang untuk tujuan di atas. Para pengusaha walet, cenderung berbuat semaunya dan meninggalkan aspek kebersamaan. Misalnya, saling meninggikan gedung hanya karena khawatir tersaingi, menutup akses masuk walet untuk orang lain, dan jumlah bangunan tidak terkontrol.

Kehadiran real estate rumah walet di beberapa daerah banyak memberikan harapan. Di Lubukpakam, Sumatera Utara, misalnya, tampak rumah walet berukuran seragam dengan tataletak cukup apik. Budi Widoto, sang pengembang mengatakan, “Kami bangun rumah walet dengan mempertimbangkan aspek budidaya dan keindahan.” Sarana dan prasarana yang berkaitan dengan usaha budidaya walet disediakan. Seperti, kolam besar untuk bermain walet dan penjaga keamanan.

Itu pula yang disediakan Mulyadi di Serpong, Tangerang. Dua lokasi real estate rumah walet di Cilenggang dan Kademangan, Serpong, Tangerang, 2 tahun lalu dibuka. Lahan seluas 8 ha dan 4 ha disediakan untuk para pengusaha yang ingin terjun ke walet. Hanya saja, ia sekadar menyediakan kavling tidak berikut bangunan. “Sarana dan prasarana, itu pasti, agar kelangsungan budidaya walet terjamin,” jelasnya.

Kecuali soal keamanan yang sangat diprioritaskan, Mulyadi memperhatikan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu ia membatasi luas minimum pembelian. Maksudnya, agar pembeli kavling bisa menyisakan lahan cukup luas di luar peruntukan bangunan. Sebagai bentuk dukungan untuk program di atas, lelaki murah senyum itu pun hanya mematok 20 rumah walet di lahan seluas 4 ha. (Karjono)