Goyang Lidah Jepang-lndonesia

Olahan amorphophallus jepang itu sudah merakyat. Soba dan shira-taki, misalnya, dijajakan setiap musim panas oleh restoran kecil di pinggir jalan, kantin, hingga restoran bergengsi. Soba berupa mi berwarna hijau, dan shira taki, mi yang diiris tipis.

Di kantin perguruan tinggi pertanian terbesar di Jepang itu, pelanggan tinggal memasukkan koin sebesar ¥300 ke mesin kasir otomatis. Setelah memencet menu soba, dari lubang kecil muncul bukti pembayaran untuk diberikan ke pelayan kantin. Lima menit kemudian, pelayan datang membawa baki berisi soba, cocolan mirip kecap rasa asam manis, dan sumpit.

soba, makanan favorit untuk diet
soba, makanan favorit untuk diet

Semangkuk soba itu menebar aroma sedap mengundang selera untuk dilahap. Lembar demi lembar soba digulung sumpit, dicocol, dan nyam…nyam..nyam. Kelezatannya membuat lidah tak berhenti berdecak. Bila belum puas, pelanggan bisa menambah okashi, kue kering, oden— dibaca odeng, shabu-shabu, atau sukiyaki. Cemilan itu dibuat dari konnyaku, yang mirip agar-agar putih, olahan dari Amorphophallus konjac.

Makanan dari konnyaku menu favorit di negeri Matahari Terbit, terutama untuk program diet. Dari 100 g umbi antara lain terkandung: 78,8 g air, 1,2 g protein, 0,2 g lemak, 19 g karbohidrat, 0,8 g serat, 0,8 g abu, 43 mg Ca, 22 mg P, 0,6 mg Fe, 270 IU vitamin A dan energi yang dihasilkan 340 kj.

Konyaku Mulai Dikebunkan

Karena kebutuhan masyarakat Jepang amat besar, muncullah perkebunan konnyaku di Fukushima dan Gunma, sekitar 12 jam dari Tokyo. Di sana, anggota famili Araceae itu ditanam di tempat terbuka dengan jarak 70 cm x 70 cm. Permukaan tanah ditutup dengan jerami.

Pada tahun pertama, tinggi tanaman mencapai 1 m, dengan bobot umbi mencapai 200 g; tahun ke-3,1—2 kg; dan tahun ke-4, 9—13 kg. Dari lahan 1 ha, dipanen 200 ton/ha atau setara 7,5 ton tepung.

Tepung itu kemudian diolah menjadi konnyaku. Untuk membuatnya, tepung konnyaku direbus lalu dicampur kalsium hidroksida atau kalsium oksida dan ekstrak putih telur. Setelah menjadi bubur dibentuk sesuai keinginan, lempengan atau mirip lemper. Bila tidak mendapatkan tepung, konnyaku dibuat dari endapan perasan air pati dari umbi.

Kerabat A. konjac yang populer di Jepang itu juga ada di Jawa Timur. Di sana nama kondangnya ialah iles-iles Amorphophallus campanulatus. Hasil panen ditampung dan diolah PT Ambico untuk diekspor ke Jepang. Sisanya diolah menjadi keripik atau mie untuk dijual di pasar lokal.
Salah sangka

Kerabat talas-talasan paling mendunia ialah Amorphophallus titanum yang ditemukan pada 1878 oleh Dr Odoardo Beccari, ahli botani dari Italia. Bobot umbi tanaman langka itu mencapai 100 kg saat pertama kali diboyong ke Kebun Raya Bogor pada 1915. Sampai saat ini Kebun Raya Bogor mengoleksi beberapa pohon dari Bengkulu, Lahat, Solok, dan Jambi.

Amorphophallus setinggi 2,5 m pernah mekar pada 1997 di Kebun Raya Bogor. Celakanya, banyak orang menyebut bunga bangkai di kebun raya itu dengan nama Rafflesia arnoldi. Padahal, itu sebenarnya amorphophallus. Sebutan rafflesia dan amorphophallus menjadi rancu lantaran bunga kedua tanaman itu sama-sama berbau bangkai.

Rafflesia dikenali dari bentuk bunga seperti mawar, memiliki 5 “petal” mengelilingi piringan. Bunga amat besar dengan garis tengah 70—150 cm. Puspa langka itu tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak berbatang. Karena itu bunga seolah duduk di tanah. Untuk hidup, parasit raksasa itu menempel di pohon inang tertentu sehingga sulit tumbuh di luar habitatnya.

Lain dengan Amorphophallus titanum. Cara hidupnya sama dengan kerabat talas-talasan lain. Ia memiliki batang, daun, dan umbi. Bunga “berdiri” setinggi 2-—3 m dengan garis tengah 0,5 cm. Selain di habitat asli, ia pun bisa tumbuh di Eropa dan Amerika Serikat.

Kebun konnyaku
Kebun konnyaku

Jenis lain

Amorphophallus termasuk tanaman langka. Jadi masih banyak yang belum diketahui jenisnya. Amorphophallus di tepi Sungai Mahakam itu juga masih asing. Penampilannya aneh, mirip perahu layar yang sedang bersandar di pinggir Sungai Mahakam.

Semasa hidupnya Amorphophallus sp alias buti mengalami 2 fase berbeda. Tubuh dan perbungaannya keluar secara bergantian dari umbi batang yang terkubur di dalam tanah. Yang terlihat seperti tubuh batang, sebenarnya tangkai daun yang bulat berdaun tunggal yang terpecah-pecah mirip daun kentang. Tingginya mencapai 3 m. Tangkai daun bercorak belang hijau-putih mirip ular phyton. Karena itu, seringkah diserang ular karena disangka musuh. Di Jawa Barat, bunga yang pada waktu tertentu mengeluarkan bau bangkai ini disebut cocooan oray alias mainan ular.

Amorphophallus campanulatus

Di Jawa disebut suweg alias acung. Umbinya sering disantap karena kaya karbohidrat dengan kandungan utama pati 52,6%. Bentuk pohon mirip amorphophallus lain. Yang membedakan ialah bentuk bunga. Bunga yang mekar tingginya 30—40 cm dengan seludang berbentuk bulat-oval bergelombang dan berwarna merah darah. Seludang ini membungkus tongkol berbentuk kepalan tangan yang juga berwarna merah di ujung. Tanaman asal Madagaskar itu kini menyebar luas di Jawa. Ia tumbuh mulai dari pinggir pantai hingga ketinggian 800 m dpi. Habitatnya di daerah vegetasi sekunder, hutan jati, atau tumbuh liar di kebun-kebun penduduk. Hidupnya di tempat teduh, tanah gembur, atau berpasir dengan pH 6-7.

Amorphophallus paeoniifolius— sinonimnya, juga pernah ditemukan di Sulawesi Utara. Bibit umbi berbobot 25 g pada saat tanam akan berkembang menjadi 546 g setelah berumur 1 tahun. Sedangkan yang berbobot 150 g menjadi 2.000 g pada waktu sama. Apabila jarak tanam yang digunakan 1 m x 1 m dengan bobot umbi 150 g, maka setelah 1 tahun akan diperoleh panen umbi sebesar 20 ton/ha. Amorphophallus variabilis

Di Jawa dan Madura, jenis yang disebut “cumpleng” ini tumbuh liar pada ketinggian di bawah 700 m dpi. Sosok tubuh lebih kecil daripada buti. Tinggi tangkai daun kurang dari 1,5 m. Buah bulat kecil berwarna merah dan tersusun dalam tandan, berbiji 1—3 pada setiap buah. Tumbuhan ini belum banyak diketahui kegunaannya sehingga belum dibudidayakan.

Konon pada masa penjajahan Jepang, penduduk Jawa dikerahkan mencari umbi tumbuhan ini untuk dikirim ke Jepang sebagai campuran bahan bakar pesawat terbang. Sebenarnya banyak dari marga Amorphophallus yang mempunyai potensi sebagai sumber karbohidrat, tapi belum digali lebih mendalam. Cara budidayanya mungkin tidak jauh berbeda dengan P. caihpanulatus atau P. konjac.