Gelembung Bisnis Bunga Balon

Laba yang diperoleh Marlina Y, pemasok bunga di Cipanas, Cianjur, akhir-akhir ini meningkat. “Setiap bulan permintaan bunga balon bertambah,” ujar kelahiran Semarang itu. Oktober tahun lalu, ia hanya mengirim 2 ikat. Namun kini jumlahnya meningkat hingga 20 ikat sekali kirim. “Berapa saja yang ada, asal kualitas bagus langsung kirim,” tambahnya meniru ucapan seorang konsumen di Surabaya.

Dengan membeli Rp5.000/ikat ke petani, Marlina memperoleh margin cukup bagus dengan penjualan Rpl2.500/ikat. Kondisi ini berbeda dengan bunga lain seperti krisan. Pembelian krisan standar dan spray Rp5.000—Rp7.000 hanya bisa dijual Rp 8.000—Rp9.000/ikat. “Meski jumlah sedikit, tapi untungnya lumayan,” tambahnya.

Pamor bunga balon memang melesat sejak 2 tahun terakhir. Konon tren itu dimulai ketika sebuah pameran bunga di Aalsmeer, Belanda, memajang sosok Asclepias sp. Beberapa pekebun yang mengunjungi pameran membawa benihnya. Popularitasnya makin dikenal saat seorang trendsetter perangkai bunga dari Belanda mengadakan demo di Jakarta 2000 lalu.

Melihat sosok unik dan istimewa, tentu saja konsumen tertarik sehingga permintaan pun langsung melonjak. Lantaran masih sedikit yang mengusahakan, harga bunga balon waktu itu lumayan tinggi. “Bisa mencapai Rp 20.000/ikat,” ujar Asep Yusuf, pemilik Pondok Lili. Tak ayal bunga balon jadi primadona banyak pekebun di sekitar Cianjur.

Mudah ditanam

Dalam sekejap volume produksi bunga balon meningkat drastis. Apalagi selain Asclepias physocarpa, terdapat A. fructiosa yang banyak tumbuh di sini. Bedanya, asclepias benih impor berbunga bulat, sedangkan yang lokal berbentuk lonjong. Kemiripan sosok membawa berkah, sehingga jenis lokal ikut laris.

Akibat produksi melimpah, harga bunga turun. “Sekarang tinggal Rpl2.500—Rpl7.500, tergantung kualitas,” jelas Asep. Harga itu untuk bunga produksi kebun besar dengan kualitas bagus. Produksi petani kecil, hanya dijual Rp5.000/ikat karena kualitasnya jauh di bawah bunga produksi kebun besar.

Kebanyakan produksi petani kecil itu masuk ke pasar-pasar bunga, seperti Rawa Belong, Jakarta. Tentu saja kualitas bunga beragam, dari yang rata-rata, hingga rendah. Sedangkan produksi kebun besar langsung dijual kepada Boris, dekorator, dan pemasok besar.

Maraknya pekebun mengusahakan bunga balon tak lepas dari mudahnya penanaman. “Cukup dengan benih, 6 bulan kemudian bisa dipanen,” ujar Asep. Umumnya pekebun tak mau repot, mereka langsung membeli bibit dari produsen besar seperti PT Bina Usaha Flora, Cipanas. Di samping benih impor, pekebun bisa juga mengambil biji dari bunga lokal. Penanaman di lahan pun tak serumit krisan. Hanya saja serangan hama dan penyakit yang tinggi masih jadi kendala utama.

Setelah 6 bulan, dipanen sekitar 8 tangkai. Agar kualitas bagus, penanaman berikutnya dengan benih baru. Namun, banyak petani yang terus mempertahankan tanaman hingga beberapa kali panen. Cara itulah yang menyebabkan mutu bunga jauh turun.

Ciri kualitas bagus, sosok bunga hijau cerah, mulus, berbentuk bulat atau lonjong penuh, panjang tangkai 60—90 cm, dan ukuran bunga besar sampai sedang. Sedangkan yang berkualitas rendah, bunga tampak peot, letaknya di tangkai jarang, terdapat kutu atau hama lain, dan bunga berukuran kecil.

Berbeda dengan bunga umumnya, asclepias tak dihitung berdasarkan jumlah . tangkai. “Dalam 1 ikat, berisi 25 kuntum bunga balon ukuran besar dan sedang,” kata Chandra Dewi S, produsen di Cipanas. Biasanya 5—8 tangkai memuat sejumlah itu.

Terbatas

Uniknya, tak seperti krisan atau gerbera yang harus dipanen saat mekar, bunga balon bisa bertahan lama. “Kalau jumlah di pasaran over, panen di kebun terpaksa ditunda,” tutur Asep. Lamanya sekitar 2 minggu. Setelah itu bunga harus cepat-cepat dipanen bila tak ingin kedaluarsa.

Meski selintas terjadi banjir bunga, permintaan bunga balon terus mengalir. Konsumen banyak yang tertarik pada sosok bunga yang tak biasa. “Event besar seperti hari raya, tahun baru, atau perkawinan banyak memakainya,” kata Atie. Selain itu sifat bunga yang tak gampang layu jadi nilai tambah. “Ketahanannya bisa mencapai 1 minggu lebih,” tambah pemilik kebun di Lembang itu.

Sayangnya, volume pemesanan tiap konsumen tak sebesar bunga utama. Jika permintaan krisan mencapai ratusan ikat, bunga balon hanya puluhan ikat. “Ia hanya sebagai filler,” ungkap Atie Subayanto, pemilik Puri Sekar Sari, pengusaha bunga potong. Untuk hand bouquet ukuran sedang, kebutuhannya hanya 2—3 tangkai berisi bunga ukuran kecil. Oleh karena itu, dalam seminggu Atie yang juga perangkai bunga hanya memerlukan 30—50 ikat.

Dengan kondisi itu, pasokan di pasaran sedikit saja berlebih harga pun langsung bergejolak. Tak heran bila harga di pekebun pun bisa anjlok menjadi Rp5.000—Rp 12.500 per ikat, tergantung kualitas. Oleh karena itu Asep hanya mengusahakan 4.000 tanaman dengan sistem panen bertahap. Menurutnya, jumlah itu pun sudah terlalu banyak. Targetnya hanya 100 ikat/minggu.

Pasar potensial

Menurut Asep yang memiliki kebun di Garut, tren bunga balon sekarang bergeser ke daerah. Lampung, Semarang, dan Yogyakarta merupakan pasar potensial yang belum digarap pekebun. Kecenderungan itu mulai dipantaunya setelah banyaknya pesanan yang mengalir dari daerah. Hal sama juga diungkapkan Chandra. “Bali dan Surabaya banyak pesan,” ungkap pemilik nurseri Puspa Kumala itu.

Harga jual bunga kualitas bagus mencapai Rp 17.500—Rp20.000/ikat. Namun, cara pengiriman menjadi kendala. Pasalnya, sosok bunga mirip balon rentan rusak. Ia tak tahan penumpukan berat. Jika tak jeli mengemasnya, bunga bakal terjepit, lantas peot. Kalau sudah demikian, konsumen pun menolak. Dampaknya, keuntungan di depan mata sirna. (Utami Kartika Putri)