Dendrobium Miniatur Makin Merajai Pasar

Melihat sukses itu, Vonny Asmarani—pemilik Vonny Orchids — mencoba peruntungan pada ekshibisi tanaman hias di Bali 5 bulan kemudian. Ternyata perjudiannya tak meleset.

Harga jual Rp20.000—Rp25.000 per pot tak mengendurkan para pembeli memboyong ratusan pot dendrobium tipe compactum di gerainya. Malah, imbas dari pameran-pameran itu, penganggrek di Mojokerto itu kebanjiran order dari pelanggan di berbagai kota.

Nun di Pondokcabe, Ciputat, Warsito sedang mempersiapkan 300 pot dendrobium siap mekar untuk seorang pelanggan di Semarang saat AraKPT temui pada pertengahan Juli. Anggrek yang dikirim juga berbatang pendek—rata-rata setinggi 30—40 cm. Seminggu sebelumnya pemilik Permata Orchids itu mengirim 1.000 pot ke Solo. Itu belum termasuk pengiriman rutin pada pelanggan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Rata-rata mereka meminta 500—1.000 pot sekali kirim.

Kesibukan serupa juga AraKPT temukan di kebun-kebun lain. Sebut saja Ayub S Parnata. Sejak 3 tahun lalu, penganggrek senior itu membuka kebun khusus dendrobium di Subang. Padahal di Lembang, Bandung, ia sudah mengelola 2.000 m2 kebun yang diisi phalaenopsis, paphiopedillum, dan beragam anggrek spesies. Dari total populasi di Subang, 30—40% adalah dendrobium berbatang pendek—20 cm— dan berbunga.

Itu setali tiga uang dengan suasana di “kebun” seluas 400 m2 di halaman rumah Kumala Ningsih di Yogyakarta. Bahkan di sana dendrobium yang dirawat melulu pendek. Sementara di nurseri Wijaya Orchids, Sentul, Bogor, keluarga Orchidaceae kate itu menjadi “darah” penjualan sehari-hari.

Pendek vs tinggi

Bukan tanpa alasan para pekebun itu memilih dendrobium-dendrobium berbatang “kate”. “Sekarang ini konsumen sedang mencari yang pendek-pendek seperti ini,” tutur Warsito sambil menunjuk hamparan dendrobium “kontet” di kebunnya. Harap mafhum, dengan batang pendek tapi berbunga, pembeli pantas terpikat. Apalagi harganya masih terjangkau kantong banyak orang, antara Rp20.000—Rp25.000 di tingkat eceran.

Walaupun berbatang “kontet”, bukan berarti tangkai bunga ikut pendek. Panjang tangkai bunga mencapai 2—3 kali tinggi batang. Tangkai kokoh dengan susunan bunga rapi dan semarak. Pilihan warna pun beragam: merah tua, jingga tua, putih polos, kombinasi ungu dan putih, sampai biru. Tak kalah meriah dibandingkan kembang dendrobium yang selama ini ada jenis

hibrida lokal. Hanya saja, kerabat vanili yang terdahulu membutuhkan waktu untuk berbunga lebih lama. Rata-rata 1—1,5 tahun, bahkan ada yang 2 tahun. Kala itu tangkai bunga sudah setinggi di atas 60 cm.

Meski sama-sama “kate”, Handy Halim, penganggrek di Serpong, Tangerang, membedakan antara dendrobium tipe compactum dan berbatang pendek. “Pada jenis compactum, batang tanaman tidak boleh lebih tinggi dari sebungkus rokok dan berbunga,” katanya.

Panjang tangkai bunga minimal 2 kali tinggi batang dengan paling tidak 6 kuntum pada bunga pertama. Bunga-bunga lebih marak akan muncul dari bulb-bulb berikutnya yang tingginya pun paling hanya sejengkal.

Sementara dendrobium short begitu Handy mengistilahkan bertinggi batang sekitar 25 cm pada saat bunga pertama muncul. Sama seperti compactum, si pendek juga bertangkai bunga panjang dan semarak yang muncul serempak. Keduanya sama-sama genjah, 6 bulan setelah tanam dari seedling berbunga.

Si pendek dari Indonesia (kini) dan impor dari Thailand (kanan)
Si pendek dari Indonesia (kini) dan impor dari Thailand (kanan)

Pasti

Sifat-sifat itu tak melulu digemari konsumen, tapi juga menguntungkan bagi pekebun dan pedagang. “Return of investment-nya cepat,” ujar Handy. Pekebun cukup menunggu selama 6 bulan untuk membungakan si kompak dan si pendek. Kalau yang ditanam bukan keduanya, minimal butuh tambahan waktu 6 bulan lagi agar dendrobium bisa dijual. Lantaran “murah” pembeli kerap memborong.

Dengan harga bibit impor Rpl 1.000—Rpl5.000, dalam 6 bulan pekebun menuai pendapatan Rp 17rb-Rp 22rb per tanaman. Bila dijual langsung ke eceran harga melonjak hingga Rp25.000— Rp35.000 per pot. Padahal biaya perawatan relatif kecil sekitar Rp3.000—Rp5.000 per 6 bulan.

Selain itu, “Untuk melayani konsumen partai besar lebih pasti,” kata Vonny. Menurut mantan menejer sebuah perusahaan kertas itu, dendrobium meriklon—begitu Vonny menyebut si pendek berbunga serempak. Waktunya pun mudah diprediksi. Begitu 1—2 tanaman berbunga, dipastikan dalam minggu yang sama dendrobium-dendrobium sejenis dan seumur pun berkembang.

Pilihan warna pun sangat beragam. Untuk 1 pelanggan biasanya perempuan ramah itu memberikan 20 warna berbeda. Malah ketika musim raya berbunga, jumlahnya mencapai 40 variasi. Karena bertubuh pendek, dendrobium “kontet” pun lebih ringkas kala dikemas.

Dengan begitu Vonny leluasa mengatur pengiriman pada konsumen langganan. Maklum setiap hari ia mesti mengirim setidaknya 400 pot tanaman berbunga yang dibagi rata pada 4 pelanggan. Padahal kerap kali permintaan pelanggan 2 kali lipat volume itu.

Gara-gara Jepang

Dendrobium tipe compactum dan short sebetulnya bukan barang baru di Indonesia. “Pertengahan 1980-an sebenarnya dendrobium pendek short sudah masuk dari Malaysia, tapi waktu itu jarang yang melirik. Penggemar anggrek di sini masih terpukau pada dendrobium bersosok tinggi dan berbunga lebat,” papar Ery Hanandita, penganggrek di Jakarta Selatan.

Pada akhir 1990-an hadir dendrobium short asal Thailand. Kali ini dengan variasi warna cukup banyak, si pendek mulai mencuri hati penggemar lokal. Importirnya antara lain Warsito dan Handy Halim. Asyh Orchids— nurseri milik William Halim, ayah Handy pula yang memasuk dendrobium tipe compactum, juga dari negeri Siam, pada 2001. Namun, baru setahun belakangan ini para “kate” itu marak di tanah air seperti terekam dalam kegiatan-kegiatan pameran.

Sementara di Thailand, kedua jenis anggrek itu memang ngetren sejak lebih dari 10 tahun silam. Itu semua akibat “ulah” Jepang yang meminta kiriman dendrobium kate. Penduduk negeri Matahari Terbit itu gemar tanaman. Sayang, lahan di rumah mereka sempit-sempit sehingga tak ada tempat untuk tanaman besar.

Mereka beralih pada yang mini-mini makanya seni bonsai berkembang di sana—termasuk dendrobium. Dendrobium miniatur cocok sebagai bunga meja. Belakangan, Belanda, Taiwan, dan Singapura juga meminta yang seperti itu.

Berkat ketekunan penangkar di Thailand mengotak-atik, lahirlah dendrobium-dendrobium “kontet” dan cepat berbunga. Sebut saja thongchai gold kanongporn, salah satu dendrobium short yang tengah digandrungi di Indonesia. Jenis itu perbaikan dari thongchai gold luxana. Luxana butuh waktu 1—1,5 tahun untuk berbunga dengan batang menjulang. Sementara di Asyh Orchids, AraKPT melihat “adiknya” sudah mengeluarkan calon bunga meski baru dirawat 3 bulan

Tipe compactum, cantik untuk bunga meja
Tipe compactum, cantik untuk bunga meja

dari seedling.

Jenis lain misalnya black spider yang ada di Permata Orchids. “Bunganya bagus berwarna kehitaman. Sayang, tinggi tanaman bisa mencapai 4 m. Jadi sulit menikmati bunganya,” kata Warsito. Oleh penyilang di Thailand si laba-laba hitam dikawinkan dengan D. minnie sehingga kini batangnya cuma 20 cm.

Selama itu, kehadiran dendrobium compactum dan short di kebun-kebun memang masih tergantung pada pasokan dari Thailand. Namun, bukan berarti tidak ada penangkar dalam negeri yang memproduksi. “Para penangkar lokal tidak mau kalah untuk menghasilkan jenis-jenis yang pendek,” tutur Vonny. Ungkapan itu benar adanya.

Sebut saja Ayub memproduksi sendiri dendrobium-dendrobium pendek hasil persilangan dengan 3 induk, yaitu D. canaliculatum, D. caronii—keduanya dari Papua, dan D. capra asal Yogyakarta. Di Jakarta ada A Lung, Muslich, dan H Muchyar yang melakukannya.

Produksi Mandek

Toh, mengusahakan tanaman “kontet” bukan tanpa kendala. Saat pertama kali mendatangkan dendrobium compactum, Handy kesulitan pasar. Selama setahun Asyh Orchids mencoba memasarkan lewat 7 outlet sebuah hipermarket di Jakarta. Namun, pemasaran mandek lantaran hobiis cenderung menyukai jenis-jenis hibrida yang berbatang tinggi.

Sementara pemasaran lewat pedagang-pedagang daerah dan pusat-pusat penjualan anggrek seperti Taman Anggrek Ragunan dan Taman Anggrek Indonesia Permai tidak mendapat tanggapan. Handy menduga itu terjadi lantaran hobiis masih memiliki ruang-ruang terbuka yang luas.

Makanya dendrobium bongsor yang dicari—terutama oleh para kolektor. Para pedagang pun enggan mengambil risiko tak laku. Pilihan warna jenis itu pun terbatas. Sampai saat ini variasinya paling hanya sekitar 4 warna.

Namun, kini di saat kecenderungan semakin banyak masyarakat perkotaan memiliki lahan sempit, pemasaran dendrobium “kontet” menjanjikan. Memang menurut hitungan Handy, saat ini jenis hibrida masih menguasai 60% perdagangan dendrobium. Diikuti dendrobium short (30%) dan compactum (10%).

Meski begitu para pekebun yakin pangsa pasar para miniatur bakal terus membesar. Terbukti mereka kewalahan melayani permintaan pasar yang tak melulu berkutat di kota-kota di Pulau Jawa, tapi meluas hingga ke Bali, Kendari, Manado, Medan, Riau, dan Batam. Apalagi bila pemanfaatan dendrobium “kontet” terus diperkenalkan.

Sebut saja yang pada Natal silam digarap Vonny. Dendrobium-dendrobium compactum dirangkai dalam 1 pot lebih besar. Satu pot berisi sekitar 5 tanaman dengan bunga berbeda. Hasilnya jadi parsel yang menarik.

Sementara di Pulau Dewata mulai banyak hotel-hotel yang menampilkan dendrobium segar di dalam setiap kamar. Artinya yang dibutuhkan jenis yang short atau compactum. Nah, dengan begitu yang mini-mini siap menguak pasar.