Budidaya Buah Naga di Tanah Jawa

Rutinitas itulah yang kini dijalani Lie Ay Yen. Sejak Agustus 2004, setiap minggu pekebun dragon fruit di Semarang, Jawa Tengah, itu harus memasok 300 kg Hylocereus costaricensis, naga daging merah ke Bali. Dengan harga Rp30.000 per kg, bapak 4 anak itu meraup omzet Rp36 juta per bulan. Pendapatannya kian membengkak bila permintaan dari calon pelanggan lain dipenuhi. Sebut saja dari Jakarta dan Bandung yang bisa menampung berapapun produksi kebun Ay Yen. Sayang, lantaran produksi dari kebun belum kontinu order terpaksa ditolak.

Ayah politikus Alvin Lie itu menanam 1.000 batang dragon fruit di kawasan Marina, 15 menit berkendaraan dari kota Semarang. Prospek pasar yang bagus mendorong Ay Yen mengebunkan dragon fruit. Bibit ukuran 60 cm asal Malaysia dibeli tahun 2003 dengan harga RM10, setara Rp25.000. Anggota famili Cactaceae itu ditanam berpasang-pasangan dan dirambatkan pada tiang besi. Sulur-sulur yang sengaja ditumbuhkan saat tanaman setinggi 2 m tidak dibiarkan menjuntai ke bawah, tapi diikat di antara kawat besi. Alhasil, orang seperti berjalan di bawah labirin jika masuk ke dalamnya.

Meluas

Selain Lie Ay Yen, ada Djoko Raino Sigit di Delanggu, Klaten, yang tertarik mengembangkan kaktus madu sebutan buah naga di Malaysia. Buah naga daging putih, H. undatus ditanam di 2 tempat, Klaten dan Pasuruan. Lahan seluas 500 m2 di Delanggu merupakan kebun percobaan. Sebanyak 75 tiang beton ditancapkan di Delanggu. Setiap tiang menyangga 4 batang. Cara penanaman serupa diterapkan di kebun Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur. Di sana pula suami Endang Susilawati itu kerap menerima tamu yang ingin mempelajari penanaman dragon fruit.

Dalam setahun pehobi mobil antik itu bisa menuai 3 kali panen dari kebun Purwodadi. Panen raya berlangsung pada Oktober, Desember, dan Februari. Sekali panen 70 ton dragon fruit dipetik dari lahan seluas 20 ha. Hasil panen dipasarkan pada penampung yang memasok pasar Jakarta. Dari sana konon pitahaya sebutan di Thailand itu melanglang hingga Singapura.

Dengan harga Rp30.000 per kg, tak heran jika omzet master lingkungan itu mencapai 9 digit per tahun. Harga lebih tinggi dinikmati dari hasil panen di Delanggu. Penanaman buah surga itu tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Dengan . mengusung embel-embel organik, harga mencapai Rp45.000 per kg.

Beralih

Memang, sejak dimunculkan di AraKPT edisi Mei 2003 gairah menanam buah naga semakin besar. Pertumbuhan paling kentara terlihat di Jawa tengah. Tak heran Sapta Surya, pelopor buah naga di Jawa Timur kini sibuk berkeliling daerah. Maklum, selain mengelola kebun sendiri seluas 3 ha ia juga kebanjiran order kerjasama di Cirebon, Yogyakarta, Kediri, dan Banyuwangi. Permintaan dari luar Jawa bukannya tak ada, tapi Sapta belum bisa melayaninya.

Gairah menanam tak melulu milik perorangan. Pemda Kabupaten Kulonprogo membuka kebun seluas 3 ha di Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang. “Buah naga dikembangkan untuk kepentingan masyarakat,” tutur H. Toyo S. Dipo, Bupati Kulonprogo ketika dijumpai di sela-sela panen perdana Desember lalu. Rencananya Pemda mengelola selama 5 tahun. Selanjutnya sisa umur produksi yang bisa mencapai 30 tahun diserahkan kepada masyarakat. Pada panen perdana 60—70% tanaman berumur 1,1 tahun sudah berbuah.

Jejak serupa juga diikuti pemerintah daerah lain. Sebut saja Pemda Banjarnegara yang mengembangkan 500 bibit di Kecamatan Sigaluh. Harga salak, komoditas andalan Banjarnegara yang semakin turun menjadi alasan utama melirik buah naga. Dinas Pertanian DI Yogyakarta juga membuka demplot berisi 300 batang di Kecamatan Sanden, Bantul.

Panen perdana di Kulonprogo
Panen perdana di Kulonprogo

Jual bibit

Tren mengebunkan buah naga terutama di Jawa Tengah pun tergambar dari permintaan bibit yang mampir ke pekebun. Djoko misalnya, sejak Januari 2004 melepas 150.000 bibit ukuran 50— 60 cm. “Konsumen hingga Lampung dan Makassar,” ujarnya. Harga tergantung jenis. Yang berdaging merah dijual Rp20.000 per polibag. Satu polibag berisi bibit setinggi 3 ruas (60 cm). Sementara daging putih Rp60.000. Demi menjaga kualitas, bibit diambil dari cabang yang sudah menghasilkan buah. Hal senada diungkapkan Lie Ay Yen. Walaupun lebih berkonsentrasi pada produksi buah, penggemar fotografi itu juga melayani permintaan bibit. Pesanan datang dari Bandung, Bali, dan Banten. Ia menyediakan bibit setinggi 20—60 cm. Harganya Rp 1.000 per sentimeter. Dari permintaan 5.000 bibit yang masuk baru 500 bibit terpenuhi. Maklum, importir beragam hasil pertanian itu tengah menyiapkan 25 ha lahan baru di Jawa Tengah untuk dragon fruit dan lengkeng dataran rendah.

Faktor perawatan yang mudah mendorong maraknya kebun-kebun baru. “Hampir tidak ada kendala berarti dalam budidayanya, kuncinya pada bibit, pemangkasan, dan pupuk,” ungkap Djoko.

Belum populer

Ironisnya, meski ramai dikebunkan, buah naga belum begitu populer di masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta. Konsumennya terbatas pada warga keturunan Tionghoa. Tak heran penjualan di pasar swalayan lebih ramai pada saat menjelang Imlek.

Jika hari-hari biasa pasar swalayan Hero di Godean, Yogyakarta, hanya menghabiskan 10 kg thang loy, menjelang Imlek penjualan meningkat 100%. Saat kebun-kebun seputaran Kota Pelajar belum berbuah, Toko Buah Kumia di Jalan Kolombo harus mendatangkan dari Cina.

Menurut Lie Ay Yen keasingan masyarakat Jawa Tengah pada buah naga lantaran soal selera. Buah naga bercitarasa masam, sedangkan lidah kebanyakan orang Jawa lebih akrab dengan rasa manis. Toh, para pekebun tetap optimis buah naga bakal digemari.

Untuk sementara si buah naga dilempar ke pasar Jakarta dan Jawa Timur yang sudah terbentuk. Bahkan, di Jawa Timur, Sapta Surya dengan bendera JSN siap menampung hasil dari para pekebun mitra. Atau terobosan model Dinas Pertanian Yogyakarta dengan menggandeng investor dari luar negeri pun bisa ditempuh. Hasil panen langsung ditampung investor. Masih banyak jalan menuju Roma untuk memasarkan buah naga.