Pasokan Sepi, Kayu Wangi Banyak Dicari

“Saya berminat membeli kayu gaharu. Untuk permulaan diperlukan 20 kg. Sekiranya baik dan memenuhi kehendak penyilang kami sanggup membeli 9.000 kg/bulan. Terima kasih.” Demikian surat Abdul Razak Abdul Rahman, importir gaharu di Malaysia, dalam ruang Forum di situs AraKPT-online.com.

Ia bukan satu-satunya orang yang mencari penghasil minyak asiri itu. Pencari lain pun antre. Bisnis komoditas itu memang menggiurkan. Dengan 20 kg, ekspor gaharu akan mendatangkan devisa Rpl03-juta. Harga gaharu kualitas super saat ini US$500— US$700 per kg. Kualitas C, yang terendah pun harga beli eksportir mencapai Rp 1 -juta/kg.

Menurut Abubakar Abdullah, eksportir di Jakarta, gaharu berkualitas baik saat ini makin sulit diperoleh. “Jangankan 9.000 kg/bulan, untuk mendapatkan 100 kg saja susah,” papar pemilik PT Bakharindo Jaya itu. Ia hanya sanggup mengekspor 300 kg gaharu super setiap tahun meski sudah berburu ke Kalimantan, Sumatera, bahkan Papua.

Padahal permintaan importir di Arab Saudi, Taiwan, Singapura, dan India mencapai 10 ton/tahun.

Hal senada diungkapkan Soleh. Menurut ekportir itu, sejak 3 tahun terakhir pasokan gaharu makin berkurang. Yang memasok umumnya 1—2 kg saja. Oleh karena itu untuk mendapatkan 25—30 kg super saja ia kesulitan. Padahal, “Bila ada barang, pasokan 100 kg pun saya terima,” paparnya. Wajar, sebab relasinya di Arab Saudi tidak membatasi pengiriman.

Anton Ida Saputra di Yogyakarta malah bingung menanggapi permintaan setelah mengiklankan via internet. “Banyaknya peminat benar-benar di luar dugaan,” paparnya. Persediaan kayu anggota famili Thymelameaceae itu sedikit sehingga permintaan tak terpenuhi.

Kesulitan serupa dialami PT B A N di Bali yang memasok pasar lokal. Menurut BAN, ketersediaan gaharu di alam sangat sedikit. Itulah sebabnya ia menjadikan Aquilaria sebagai usaha sampingan.

Kayu Gaharu Hampir punah

Jonner Situmorang, MSi, peneliti gaharu di Biotrop Bogor, membenarkan kelangkaan gaharu. Karena mahal, ia banyak diburu dan dieksploitasi besar-besaran. “Malah, ada yang sampai menggunakan helikopter untuk melacak keberadaannya di alam,” ungkap Situmorang. Sayangnya, perburuan tidak dibarengi penanaman tanaman muda sebagai upaya konservasi.

Menurut Situmorang, perkembangbiakan tanaman itu pun sangat lambat. Maklum, produktivitas biji sangat rendah.

Hasil pengamatan Prof. Dr. Magdalena Irene J. Umboh, pakar, hanya 8% tanaman yang berpotensi menghasilkan bunga dan berbuah. Daya kecambahnya juga rendah, hanya 47% sehingga sulit menemukan anakan pohon gaharu di hutan alam. Karena itulah hasil konferensi CITES {Convention on International Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada 1994 di Florida, Amerika Serikat, memasukkan Aquilaria malaccanesis, penghasil gaharu terbaik ke dalam Appendiks II CITES sebagai jenis pohon terancam punah.

Bisnis Yang Menguntungkan

Upaya pengembangan gaharu dilakukan di Kalimantan Barat sejak 1989. Seorang eksportir gaharu di Pekanbaru, Riau, juga sudah melakukan budidaya anakan liar Aquilaria dari hutan alam sejak 1991. Biotrop memperbanyak bibit lewat kultur jaringan dan menyebarkannya ke masyarakat sejak 3 tahun lalu.

Pada umur 5 tahun tanaman sudah bisa dirangsang untuk menghasilkan gubal (kayu antara kulit dan teras—red) gaharu. Caranya, dengan melukai batang berdiameter 20—40 cm dan memasukkan beberapa cendawan patogen. Dengan adanya serangan patogen, tanaman akan menghasilkan gubal gaharu. Setelah 2 tahun gubal dapat dipanen untuk dijual.

Bobot batang berumur 7 tahun mencapai 6—7 kg. Sehingga pada saat itu dapat dipanen sedikitnya 2 kg gubal gaharu. Jika 1 ha berpopulasi 830 tanaman potensi panen 1.660 kg. Dengan harga jual Rp 1 -juta/kg, setiap ha lahan menghasilkan Rpl,66-miliar. (Fendy R. Paimin)