Lahan sempit dioptimalkan dengan hidroponik

Manajemen Dalam Menanam dan Menuai

Saya memiliki teman, Agustinus Ngateman, tinggal di sebuah rumah yang bersih dan sehat, di atas lahan 1.600 m2 di Sukabumi. Apa yang ditanamnya? Selada! Pada tahun 1998, ia memulai dengan 18 biji sawi belanda di atas sebuah meja. Awal Desember 2004 lalu, hampir seluruh pekarangan penuh dengan “meja-meja” plastik dan pipa-pipa saluran hidroponik.

Hidroponik sawi dipilih, karena kualitas air di tempat itu bagus. Kedua, jarang yang membisniskan selada, sehingga saingannya sedikit. Ketiga, Sukabumi kaya dengan sinar matahari. Keempat, lahannya sempit sehingga harus bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kelima, Agus—begitu sapaannya—telaten dan menikmati pekerjaannya.

“Setiap bulan sedikitnya saya memanen 20 kuintal selada,” katanya. Selada itu kemudian dipasarkan ke hotel dan pasar swalayan dengan harga minimal Rp8.000/kg. Coba hitung berapa omzet yang dapat diraup Agus dari baby romain dan red corral?

Sekarang, bagaimana untuk kalangan gurem, dengan produk-produk yang tidak bernilai tinggi? Ibu-ibu di kawasan Rempoa, Jakarta Selatan, contohnya, membuat kandang ayam bertingkat, di seputar rumah mereka yang sempit. Tiap hari mereka bisa memanen telur dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan begitu, terbukti kata pepatah: kita menuai yang kita tanam.

Satu hal yang paling mendasar di sini adalah pemanfaatan lahan sempit, dengan nilai ekonomis setinggi-tingginya. Bahkan kalau memungkinkan Anda memenuhi seluruh dinding rumah dengan akuarium untuk membudidayakan diskus, lou han, dan ikan lain yang mahal-mahal.

Luas lahan bisa jadi tidak penting. Di Bandung, saya mengenal aktivis kesehatan yang punya kebun kantong semar di halaman rumahnya seluas 400 m2. Bunga aneh bulat berbulu itu dikirimnya ke hotel-hotel di Bali seharga Rpl5.000/kuntum. Setiap minggu ia mampu memetik 200 kuntum.

Sementara di Pamulang, Jawa Barat, pensiunan Bank Rakyat Indonesia, tiap minggu mampu meraup Rp2-juta dari jeruk purut Citrus hystric. Keuntungan itu diperoleh dari kebun seluas 1.000 m2. Bandingkan jika menanam singkong, paling banter sekali tanam hanya menghasilkan Rp3-juta/ha.

Meskipun begitu, jangan anggap menanam singkong tidak ekonomis. Untuk daerah tertentu seperti Lampung, justru ketela pohon ini menguntungkan. Tinggal keahlian kita memberi nilai tambah. Kalau dijual sebagai tepung tapioka, hasilnya akan meningkat sekian kali lipat. Keuntungan kian melimpah jika dimasak menjadi rengginang dengan kaldu ikan. Seorang pedagang makanan kecil dari Kebumen, menawarkan sebungkus rengginang singkong dalam kemasan 200 gram seharga Rp7.500 ke Jakarta.

Lima langkah

Di pinggir kota Manila, Filipina, saya punya teman bernama Eugene Gonzales. Istrinya dokter, dia sarjana, mantan dosen, tapi kemudian menjadi aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang pertanian. Salah satu proyeknya adalah membuat pusat penelitian lahan dan pemilihan bibit. Ia berpendapat bahwa separuh masalah akan terpecahkan bila kita berhasil mengidentifikasi potensi dan memilih benih yang akan dikembangkan.

Jenis ayam apakah yang paling cocok diternak dan mendatangkan uang banyak? Apa yang harus kita lakukan kalau tidak punya tanah sendiri? Harus kontrak atau sewa? Berapa luas? Apa yang sebaiknya dipelihara atau ditanam? Hal-hal semacam ini membuka peluang tersendiri.

Namun yang dilakukan Eugene di Foundation for Sustainable Development, di Filipina, agak lain. Ia dan sekitar 15 orang temannya mengelola berbagai demplot. Ada peternakan ikan di atas kantong karet yang menampung air hujan. Petakan lain berisi cabai, tomat, rami, dan beragam bunga. Bahkan sarang tawon dan kandang kerbau juga tersedia.

Dalam hal ini upaya menciptakan pupuk atau pakan ternak yang tepat jangan sampai terlupakan. Jadi, penguasaan lahan itu mencakup teknologi tanam, pengamanan lingkungan, dan penyediaan pupuk. Sukses Agus di Sukabumi, kita diyakinkan dengan penggunaan verlit (semacam busa styrofoam, red), gerusan batu apung, dan sekam bakar sebagai media tanam.

Di media itulah biji-biji selada sebesar wijen ditanam. Pupuknya dari limbah daging dan sisa-sisa organik. Hasilnya? Baby romain tumbuh bongsor, bobot mencapai 8 ons. Sedangkan butter head atau kol mini bobot 250 g/buah.

Untuk menghasilkan bobot itu, tentu memerlukan bibit yang tepat. Agus misalnya mendatangkan benih selada dari Belanda atau Australia. Benih itu dikirim melalui pos yang memerlukan waktu berbulan-bulan ke Indonesia. Harganya pun relatif mahal. Untuk benih dengan berat kurang dari 500 g Agus menghabiskan dana Rpl4-juta.

Makanya kita perlu langkah kedua, yaitu menentukan bibit yang tepat. Bukan hanya untuk sayur-sayuran, pun komoditas perkebunan. Kayu jati cocok ditanam di daerah yang kering dan tandus seperti pegunungan kapur selatan dan utara Pulau Jawa.

Hanya dalam waktu 6—8—tahun, jati genjah, bisa dipanen dan dipasarkan sebagai jati super.

Namun jika ditanam di Solok, Sumatera Barat, bibit jati yang sama tidak kunjung besar, pendek, tingginya tak lebih dari 2 m meskipun umurnya lebih dari 5 tahun.

Miris bukan? Ia hidup di tempat yang salah. Karena itulah pemerintah daerah dihimbau untuk melengkapi diri dengan lahan-lahan percobaan. Memang tidak mudah mendapatkan produk unggulan, seperti jagung untuk Provinsi Gorontalo.

Bahkan tanah-tanah subur dengan ketinggian yang sama, belum tentu menghasilkan tanaman dengan kualitas yang sama. Di Mandailing, Sumatera Utara, kopi arabika tumbuh subur dan berbuah lebat. Namun dengan ketinggian serupa, di perkebunan Salib Putih, Salatiga, Jawa Tengah, lebih cocok ditanami kopi bestak, atau kopi jawa robusta.

Yang tidak boleh berhenti adalah kreativitas dan inovasi dalam mengoptimalkan produksi, termasuk teknologi panen dan pengemasannya. Jangan pernah lupa, hasil panen padi pun seringkali berkurang hingga 30 persen akibat kekeliruan pascapanen. Penyusutan itu berlaku untuk semua produk agribisnis, terutama sayuran dan buah-buahan.

Namun, sebelum panen, kita dihadapkan pada bermacam kegiatan seperti merawat, memupuk, dan memelihara. Bermacam kiat menjaga tanaman dapat kita pelajari, baik secara tradisional organik atau bahan-bahan kimia.

Pasar agribisnis

Kualitas air adalah kunci bertani dan beternak. Sungguh mengherankan tidak ada yang memelihara ikan di danau-danau di Sorowako. Tidak ada barisan keramba, tempat pemancingan, atau kolam-kolam dari jala. Pemandangan itu lazim dijumpai di waduk-waduk, bahkan di sungai-sungai besar di Sumatera seperti Musi dan Batanghari. Tradisi melepas bibit ikan ke danau dan sungai seperti yang dilakukan para bupati di lubuk-lubuk sungai Deli, juga tidak ada.

Dengan hilangnya tradisi itu, muncul dua kemungkinan. Pertama ikan memang tidak layak dijadikan investasi. Kedua, karena kurang pengetahuan dan belum ditemukan varietas ikan yang cocok dengan danau-danau j emih, seperti Danau Matano dan Danau Towuti yang memiliki kedalaman 300—600 m.

Sekalipun tidak menghasilkan, bukan berarti pemasarannya tertutup. Banyak wilayah di Jawa Barat tidak menghasilkan duku, durian, jambu bol, dan mangga. Namun pada musimnya, produk-produk dari luar daerah yang membanjiri pasar. Tak heran di Jakarta kita kerap menemukan sukun Artocarpus cuminis goreng dari Cilacap.

Itulah sebabnya kita didatangi apel dari Amerika Serikat, buah persik dari Taiwan, durian monthong dari Thailand, sapi dari Australia, dan kurma dari Timur Tengah. Atau biji-biji sawi yang diposkan Belanda ke dusun kecil di Sukabumi.

Bila panen tiba, yang diuntungkan adalah konsumen. Tanpa repot-repot dan bersusah payah memeras tenaga dan menanam modal tinggi, mereka dapat dengan mudah menikmati hasilnya. Sementara kebanyakan petani dan peternak, paling sedikit mencicipi untung.

Agus, teman saya yang rajin itu hanya bekerja untuk sebuah sistem yang telah beijalan rapi. Ia adalah bagian kecil dari sebuah mata rantai agribisnis dan agroindustri. Begitu pula dengan semua petani, peternak, dan nelayan. Termasuk pengrajin yang erat hubungannya dengan produksi dan pemasaran hasil bumi.

Menanam dan menuai hanyalah dua bendera yang berkibar di sebuah jalan panjang dan berliku ketika kita harus memanfaatkan lingkungan, memuliakan kehidupan. Untuk menempuhnya tidak cukup dilakukan dengan menulis, apalagi membaca sebuah artikel semacam ini.

Ada kerja keras di dalam setiap langkah dan prosesnya. Harus ada keringat, tenaga dan pikiran yang tercurah, hati yang diliputi kecemasan dan harapan, kegagalan dan keberhasilan.

Memang kita akan menuai apa yang kita tanam. Namun, tidak semua yang kita tanam bakal berlimpah pada panen raya. Jadi, mungkin kita sudah boleh merasa bahagia pada saat mulai mengerjakannya. Kita lakukan yang terbaik, hasilnya terserah pencipta alam semesta.