jahe

Bisnis Jahe Pilih Segar atau Olahan?

Bisnis jahe olahan terbuka lebar. Malah permintaan rebung jahe pang diterima Bob Sadino, maestro agribisnis pada 6 tahun lalu tak terpenuhi hingga kini. Padahal, permintaan perdana hanpa 1 kontainer. Olahan lain pang juga berpeluang, di antaranpa jahe asin.

Menurut Sonny Wicaksono dari Kem Farm, rebung jahe (tunas rimpang tanaman berumur 35—40 hari, red) memang banyak diminta Jepang. Konsumsinya dalam bentuk acar, asinan, atau dijadikan campuran masakan. Rasa dan aromanya menyegarkan. Ia diyakini membantu menyehatkan badan.

Kem Farm menerima pesanan setelah mengirim sampel ke Jepang. Sayangnya, setelah order datang, Kem Farm malah kewalahan. Jepang meminta rebung dengan panjang rata-rata 16 cm, terdiri dari bagian pangkal {baby leaf) minimal 5—6 cm, dan rebung pucuk 10—12 cm. Diameter yang dikehendaki 7—15 mm.

“Untuk menghasilkan rebung berkualitas seragam seperti yang diinginkan pasar, perlu pengawasan ekstra ketat,” jelas Sonny. Selama masa pertumbuhan perlu pembumbunan rutin. Tanaman juga harus disemprot zat perangsang tumbuh untuk merangsang pertumbuhan tunas.

Karena rumitnya budidaya, hampir tak ada petani yang sanggup menanam jahe untuk diambil rebungnya. Padahal, budidaya rebung juga menguntungkan secara ekonomis. Dengan masa panen hanya 35—40 hari perputaran modal berlangsung lebih cepat. Keuntungan lain, biaya perawatan lebih sedikit dan risiko gagal lebih rendah.

Jahe asin kewalahan

Selain rebung jahe, yang juga belum terpenuhi permintaannya adalah jahe asin. Jepang setiap tahun butuh 2,5-juta peti setara 120.000 ton. “Bila ada barang, berapa pun kita pasok pasti diterima,” papar Sasmoyo S. Busari, direktur PT Indohorti Jahe Mas Prima.

Sasmoyo memperkirakan, permintaan yang dilayangkan ke Indonesia mencapai 500.000 peti per tahun. Indohorti sendiri menerima pesanan 200.000 peti/tahun. Sayangnya, perusahaan yang aktif sejak 1990 itu hanya mampu mengekspor 1.350 ton/tahun. Pengiriman berlangsung selama 6 bulan setiap tahun, dari Maret hingga Agustus saat panen. Setiap bulan dikapalkan 20 kontainer berisi 250 peti berbobot 45 kg.

Perusahaan lain, PT Bellindo Mercu Nusantara yang bermain di bisnis ini sejak 1998 juga kelimpungan memenuhi permintaan. Dari permintaan 10 kontainer/bulan, hanya 1 kontainer yang bisa dikirim.

Hal sama dialami CV Bengkulu Jaya di Curup, Bengkulu. Perusahaan yang pernah menjadi eksportir terbesar itu kini makin meredup. Kalau pada 1999 ekspor jahe asin masih 100 ton/bulan, saat ini tinggal 25 ton. Kondisi ini sangat disayangkan. Sebab, permintaan pembeli masih mencapai 2.000 ton/tahun.

Emerald Trading malah hanya mampu memasok 4 kontainer/tahun. Padahal Emerald menggarap jahe dengan total lahan 200 ha, tersebar di Malang, Lampung, dan Garut.

PT Larasindo Tunas Agritama yang menawarkan kerjasama investasi jahe juga mulai memproduksi jahe asin. Sayangnya, “Dengan lahan seluas 65 ha di Bogor, Purwokerto, dan Lampung, saat ini baru mampu memproduksi 10—15 ton jahe asin/bulan,” ungkap Sulistyanto, direktur Operasional Produksi PT Larasindo.

Kendala bahan baku

Hampir tak ada petani yang sengaja menanam jahe untuk dipanen muda pada umur 3—4 bulan. “Mereka baru mau memanen muda setelah ada serangan penyakit,” jelas Sasmoyo.

Contohnya di sentra jahe Curup, Bengkulu. Petani beralasan, hasil panen jahe muda tak sebanyak jahe tua. Paling banter hanya 12—15 ton/ha. Kalau ditunggu sampai 9 bulan, hasil panen 20 ton/ha. Akibatnya, pasokan bahan baku ke CV Bengkulu Jaya tak pernah kontinu. Itu pun dengan kualitas tidak menentu.

Karena alasan itulah, PT Bellindo hanya mengandalkan bahan baku dari kebun sendiri. “Untuk sementara kami belum menerima pasokan bahan baku dari luar,” jelas Ahmad Rosyid, bagian produksi PT Bellindo.

Saat ini Bellindo mengelola kebun seluas 14 ha di Cianjur. Penanaman dilakukan secara bertahap, 2 ha setiap bulan selama musim hujan. Mulai dari bibit hingga pemeliharaan tanaman diawasi secara ketat. Laporan mengenai perkembangan tanaman dikirim ke pembeli di Jepang setiap minggu. Menurut Ahmad, hal itu dilakukan sebagai bukti keseriusan Bellindo dalam hal pengawasan kualitas. Mulai dari lahan hingga menjadi produk. Dengan perawatan intensif, setiap ha menghasilkan 12—15 ton jahe muda dari bibit sebanyak 3 ton.

Dengan produksi sebanyak itu, praktis Bellindo hanya mampu memproduksi 1 kontainer/bulan. Sebab, untuk memproduksi jahe asin sebanyak 1 kontainer berisi 250 peti berbobot 45 kg, memang dibutuhkan 25—27 ton bahan baku.

Untuk meningkatkan produksi hingga 3—4 kontainer/bulan, Bellindo berencana memperluas lahan penanaman hingga 40 ha. Kebutuhan bibit untuk lahan itu kini sedang dipersiapkan. Di antaranya dengan membeli dari petani, tetapi dengan seleksi ketat. Sebab, “Kualitas bibit sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya,” tegas Ahmad.

Bermitra

Berbeda dengan Bellindo, PT Indohorti Jahe Mas Prima memilih bermitra dengan petani. “Sejak 1994 kami telah menjalin kemitraan dengan petani jahe di Bali,” jelas Sasmoyo.

Pada awalnya Indohorti mengalami kesulitan meyakinkan petani untuk memproduksi jahe muda. Namun, setelah melihat kenyataan banyak tanaman yang terserang penyakit pada usia 5—7 bulan, mereka pun memilih memanen dini. Apalagi dari segi ekonomis, budidaya jahe muda juga menguntungkan. “Petani tak perlu khawatir gagal panen akibat terserang penyakit,” papar Sasmoyo. Masa kritis jahe biasanya pada usia 5—7 bulan.

Saat ini lahan binaan Pondasi Grup itu sudah mencapai 2.000 ha, tersebar di 5 wilayah kabupaten di Bali. Dengan bimbingan teknis, produksi petani dapat mencapai 12—15 ton. Indohorti membeli dengan harga Rp 1.500—Rpl.750/kg, sehingga petani memperoleh Rpl8-juta hingga Rp26-juta dalam waktu 4 bulan. Dengan masa tanam hingga 2 kali per tahun, petani bisa memperoleh Rp36—52-juta/tahun. Tak jauh berbeda dengan hasil panen jahe segar yang mencapai 20 ton/ha dalam waktu 9 bulan.

Segar berpeluang

Memang, jahe segar pun masih berpeluang ekspor. Malah beberapa eksportir tak mampu memenuhi permintaan. Contohnya Bandung Farmer Internasional. November lalu hanya mampu mengekspor 7 kontainer ke beberapa negara di Timur Tengah, Kanada, dan Perancis. Padahal, permintaan negara-negara Asia seperti Malaysia dan Singapura saja mencapai 10 ton/bulan. Belum lagi permintaan negara-negara Timur Tengah yang menjadi pembeli terbanyak.

“Pakistan saja yang minta 7 kontainer tak mampu kami penuhi,” ungkap Ari Aljafri, Manajer Pemasaran PT Bandung Farmer International. Padahal Ari sudah memasang iklan di beberapa situs internet untuk menarik pemasok. Ia pun tidak membatasi pembelian dari satu sentra saja. Pasokan dari Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi pun diterima asal memenuhi standar. Ari menghendaki jahe berumur 9 bulan ke atas atau sudah mati batang, tidak terkena hama penyakit, dan bobot rimpang minimal 100 gram.

Jangankan eksportir, Ismu, penampung jahe di Curup, Bengkulu saja kini tak mampu memenuhi permintaan eksportir. Pasalnya, “Produksi jahe di sini makin berkurang,” paparnya. Karena itu sejak 2 tahun terakhir ia tak rutin lagi menampung. Padahal menurutnya, harga jual tetap baik. Stoknya sebanyak 100 ton masih terjual dengan harga Rp2.800/kg oleh penampung di Pasar Caringin, Bandung. “Itu harga di Curup,” katanya. (Fendy R. Paimin)

Kiat Hasilkan Rebung Jahe

Ada dua macam rebung jahe: rebung hijau dan rebung putih. Rebung hijau cukup ditanam di guiudan; rebung putih, di lubang berbentuk lorong selebar 2,5 m dan dalam 1 m. Tujuannya agar rimpang tidak kena matahari.

Rebung putih berasal dari bibit jahe emprit. Jahe gajah dipakai untuk memperoleh rebung hijau. Rimpang bibit dipilih yang tua, sehat, dan seragam. Untuk rebung hijau dibutuhkan bibit sebanyak 1,5—1,7 kg/m baris. Jarak tanam antarbaris 0,7—1 m. Sedangkan bibit rebung putih sebanyak 15—20 kg/m2.

Untuk mengusahakan rebung hijau, tanah diolah sedalam 30—40 cm. Setelah itu dicampur pupuk kandang 5 kg/m2 dan dibuat menjadi alur bedeng selebar 0,3—0,5 m. Jarak antarbedengan 0,5—0,7 m. Urea diberikan dengan dosis 50—75 gram/m baris. Setelah itu, tanah dibiarkan 1—2 minggu sebelum ditanami.

Hal sama juga dilakukan untuk penanaman sistem lorong. Hanya saja, bedengannya dibuat 2 baris di setiap lorong. Masing-masing selebar 1 m, dan dipisahkan oleh jalan kontrol selebar 0,5 m. Bedengan digemburkan, dicampur pupuk kandang 5 kg/m2 dan Urea 50 gram/m2. Setelah itu lorong diberi atap lengkung dari anyaman bambu, lalu ditutup lagi dengan lembaran plastik hitam.

Sebelum ditanam bibit direndam larutan zat pengatur tumbuh 2 ml/liter air selama 5—10 menit. Selanjutnya rimpang diletakkan di atas bedengan yang telah disiapkan dengan arah mata tunas ke atas.

Untuk menghasilkan rebung yang seragam panjangnya, dilakukan pembumbunan sesuai tingkat pertumbuhan tunas. Pembumbunan dilakukan 3—4 kali menggunakan tanah remah berpasir. Untuk rebung putih, penyemprotan zat perangsang tumbuh 3 hari sebelum dibumbun.

Pemanenan rebung hijau saat anakan ketiga muncul di atas permukaan tanah. Saat itu telah tumbuh 3 helai daun. Rebung putih dipanen ketika tanaman . berumur 35—40 hari. Cirinya, 80% pucuk | tanaman muncul di permukaan bedengan * setinggi 7—10 cm. Selepas panen rebung secepatnya disimpan di tempat sejuk. (Fendy R. Paimin)